Rabu, 14 Januari 2015

Karena Aku Mencintaimu, Hujan.


Adalah hujan yang rela bertahan tak bersyarat setelah sekian kali terjatuh. Salah satu yang menjadi alasan kenapa aku sungguh mencintai hujan. Karena saat hujan turun aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Karena saat hujan turun aku bisa leluasa ungkapkan segala rasa tanpa ada seorangpun yang mendengarnya. Karena saat hujan turun aku bisa rasakan dinginnya air turun dari langit. Dingin sekali. Sedingin sikapmu terhadapku, yang jauh berbeda dari yang dulu pernah ada. Kita. 

Cerita sederhana tentang kita yang dulu pernah ada menyisakan aku dan kenangan, tanpamu. Bahkan sepasang bintang yang sering kita perbincangkan kini tidak lagi berdampingan. Bisa jadi ia turut kecewa dengan cerita ‘kita’ yang telah berakhir tidak sempurna. Malam ini mendung, jadi wajar kalo nggak ada bintang. Sedih sih. Tapi dengan begitulah hujan ada. Satu, dua, tiga...dan seterusnya hujan mulai turun. Semakin deras. Kuperhatikan benar setiap tetesan airnya, memanggil namamu pelan. Memandang jauh kedepan, samar ku melihatmu ada disana, di tengah lebatnya hujan turun. Sungguh, aku merindukanmu. Bagaimana denganmu? Apakah kamu merasakan hal yang sama?  Bodoh. Kenapa aku menanyakan hal yang jelas-jelas sudah ada jawabannya. Ya, memang aku bodoh. Aku bodoh karena aku masih menyayangimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar