Adalah
hujan yang rela bertahan tak bersyarat setelah sekian kali terjatuh. Salah satu
yang menjadi alasan kenapa aku sungguh mencintai hujan. Karena saat hujan turun
aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Karena saat hujan turun aku bisa leluasa
ungkapkan segala rasa tanpa ada seorangpun yang mendengarnya. Karena saat hujan
turun aku bisa rasakan dinginnya air turun dari langit. Dingin sekali. Sedingin
sikapmu terhadapku, yang jauh berbeda dari yang dulu pernah ada. Kita.
Cerita
sederhana tentang kita yang dulu pernah ada menyisakan aku dan kenangan, tanpamu. Bahkan sepasang bintang yang
sering kita perbincangkan kini tidak lagi berdampingan. Bisa jadi ia turut
kecewa dengan cerita ‘kita’ yang telah berakhir tidak sempurna. Malam ini
mendung, jadi wajar kalo nggak ada bintang. Sedih sih. Tapi dengan begitulah
hujan ada. Satu, dua, tiga...dan seterusnya hujan mulai turun. Semakin deras.
Kuperhatikan benar setiap tetesan airnya, memanggil namamu pelan. Memandang
jauh kedepan, samar ku melihatmu ada disana, di tengah lebatnya hujan turun.
Sungguh, aku merindukanmu. Bagaimana
denganmu? Apakah kamu merasakan hal yang sama?
Bodoh. Kenapa aku menanyakan hal yang jelas-jelas sudah ada
jawabannya. Ya, memang aku bodoh. Aku
bodoh karena aku masih menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar