Aku tidak tahu apakah
aku akan menyesal, karena aku telah mencintaimu~
Sebait
lagu yang tak kuketahui judul dan penyanyinya. Terdengar pas didengar telinga
dan dirasa oleh hati di situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Aku bingung.
Aku bingung dengan aku saat ini, aku bingung dengan perasaanku, aku bingung bagaimana
kuharus menjelaskan semuanya. Kamu, temanku. Ya, itu untuk beberapa hari yang
lalu. Sekarang? Aku sulit untuk tetap beranggapan, kamu, temanku. Kamu aneh,
kamu nyebelin, kamu nggak jelas, tapi kamu bisa buat aku ketawa dengan semua
kekonyolanmu. Cerewetnya kamu, yang diluar dugaanku. Kebiasaanmu yang berkesan
lucu. Pembicaraan kita yang selalu tidak bisa kupahami. Aku kangen. Aku nggak
pernah mencoba untuk memahami semua tentangmu, tapi aku selalu ingin denganmu.
Keakraban dalam tulisan, tanpa bertatap muka dan pertemuan yang berarti.
Semuanya biasa. Tapi istimewa. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa sengaja.
Tapi aku, aku selalu ingin mengikuti arus air yang mengalir. Bersama derasnya
hujan yang mempercepat laju aliran air.
Air
yang dulu terasa begitu hangat, kini terasa sangat dingin. Seperti-mu. Iya,
kamu mulai dingin. Kamu mulai menjauh. Kamu mulai beda. Kamu mulai menjadi
orang lain yang tak lagi kukenal. Apakah aku pernah berbuat kesalahan fatal
yang berakibat pada perubahanmu sekarang ini? Atau kamu mulai membenciku dengan
segalanya tentangku, kekuranganku. Kamu selalu mengelak setiap kali kutanya
tentang ini. Jujur, aku kecewa. Kupikir kamu tulus dengan pertemanan kita.
Kesenyamanan dari seorang teman yang baru-baru ini kudapat, tiba-tiba saja
menghilang tanpa bekas setelah mencapai pada puncaknya. Setahun lamanya
kumencari sosok seorang teman yang benar-benar teman. Dan waktu mempertemukanku
denganmu. Tapi bukan untuk menjadi teman yang abadi, malah mencipta luka
dihati.
Terimakasih
teruntuk kamu,
yang katanya dalam canda takut kehilanganku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar