Minggu, 19 Mei 2013

Siapa Yang Peduli? Tak Ada.




Siapa yang peduli tentang semua ini? Siapa yang peduli akan rasa sakit ini? Siapa yang peduli seberapa banyak sepasang mata ini menumpahkan kristal beninghanya untuknya? Siapa yang peduli akan perasaan ini? Siapa yang peduli dengan pengharapan ini? Siapa yang peduli seberapa sering bibir ini menyertakan namanya dalam setiap bait doa? Siapa yang peduli seberapa sering tangan ini menuliskan cerita tentangnya? Siapa yang peduli seberapa besar perhatian ini untuknya? Siapa yang peduli? Tak ada. Kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa peduli? Mengerti saja kamu tak pernah. Lalu kamu pikir ini semua kulakukan untuk siapa? Karena apa? Ini semua untuk kamu, karena aku menyayangimu. Tapi kenapa? Kenapa kamu tak pernah menyadarinya? Tak pernah tau, dan tak pernah mau tau? Salahkah bila ku menyayangimu? Salahkah bila ku menginginkan kamu untuk memahami setiap pengorbananku untukmu? Salahkah bila ku mengharapkan kasih sayang yang tulus darimu? Salahkah? 

Aku ingin menjadi seseorang yang berarti untukmu, untuk hidupmu. Dan aku tak pernah berhenti mencoba banyak hal untuk itu, meskipun seringkali gagal karena tak pernah terlihat olehmu, dan berujung pada kesakitan. Bukan masalah bagiku memang, namun entahlah aku selalu mengatakan seperti itu bukan masalah bagiku memang tapi pada kenyataannya selalu saja tak pernah bisa sesuai dengan apa yang kukatakan. Mungkin aku yang terlalu mudah putus asa, menyerah dan terlalu lemah. Karena aku merasa semua yang kulakukan untukmu tak pernah bisa menjadikanku lebih baik di matamu. Selalu salah, salah dan salah. Tak pernah sekalipun benar. Lalu aku harus bagaimana? Menuruti semua inginmu? Membenarkan semua tingkah lakumu? Dan bertahan dalam suatu keadaan yang sungguh membuatku bingung bahkan tertekan dan pada akhirnya terluka? Sikapmu yang seolah tak pernah ada sedikit pun rasa peduli terhadapku inilah yang membuatku ragu. Akankah ku masih sanggup bertahan untuk membuktikan kesungguhan hati ini padamu? Mengingat betapa terlalu tidak pedulinya kamu terhadapku. Mengingat seberapa seringnya kamu mengabaikanku. 

Bisakah kamu merasakan jantung ini yang hanya berdetak untukmu? Bisakah kamu mendengarkan kejujuran hati ini akan semua tentangmu? Ah, entahlah. Sulit dimengerti. Bagaimana kejelasan akan pikiranmu yang sangat menggantungkanku ini. Disaat tertentu kamu bisa saja memahamiku sesuai dengan apa yang ku perbuat, namun disaat tertentu juga kamu bisa dengan cepat berubah menganggap negatif semua yang ku perbuat.Padahal jelas apa yang ku perbuat diperuntukkan hanya untukmu. Terkadang aku lelah dan ingin menyerah. Berhenti mengaharapkan sesuatu yang mungkin tak seharusnya kuharapkan. Kamu.  Tapi keinginanku ke arah situ selalu saja dikalahkan oleh rasa sayangku yang tulus padamu. Rasanya rintangan sesulit apapun yang harus kuhadapi tak pernah bisa menghilangkan perasaanku terhadapmu. Bersabar. Ya, bersabar. Hanya bisa bersabar. Menanti hingga saatnya kamu bisa mengerti akan semua yang udah kulakukan untukmu. Menanti hingga saatnya kamu bisa sepenuhnya memahami akan perasaanku yang tulus mencintaimu. Menanti keseriusanmu terhadapku. Menanti hingga saatnya kamu bisa menerima semua kekuranganku. Menanti hingga saatnya kamu mau memutuskan untuk melangkah bersamaku menuju kesebuah keabadian bersama sepasang hati kita yang saling tulus mencintai. Karena ketulusan cinta ini yang menguatkanku untuk bertahan.

8 komentar: