Bener nggak sih cinta pertama itu
susah buat dilupain? Kayaknya iya. Apa iya pacar pertama itu udah pasti cinta
pertamanya? Belum tentu. Buktinya? Buktinya ya seperti apa yang sedang ku alami
saat ini. Ya, mungkin bisa dibilang aku ini seorang playgirl (mengakui).
Tapi itu dulu dan sekarang udah beda. Memang sih dulunya aku sering gonta ganti
pacar entah sudah berapa kali. Tapi terus terang saja dari sekian kali aku
pacaran baru kali ini aku benar-benar ngerasain gimana rasanya sayang sama
seseorang dan itu baru pertama aku merasakannya. Dan kupikir inilah yang
namanya cinta. Bilamana ku ketemu dengannya tak jarang ku merasa malu dan nervous,
tapi cuma bisa diam dan nggak bisa berkutik. Dan kalo dianya udah menjauh,
sedikit ekspresi senangnya perlahan keluar. Rasa senengnya itu lho yang luar
biasa meledak.
Selain bisa dibilang playgirl, banyak
juga yang menilai kalo aku ini cuek, judes, dan sejenisnya. Alasan mereka
menilaiku seperti itu apa aku sendiri sebenarnya nggak tau, ya karena menurutku
aku udah biasa sebiasa-biasanya. Tapi katanya—mereka menilaiku cuek dilihat
dari tampangku yang lebih memperlihatkan ke- masa bodohanku ke orang sekitar.
Iya, bisa jadi itu benar. Ah iya lanjut, tentang seseorang yang bilamana aku
ketemu dengannya merasa senang. Mungkinkah dia cinta pertamaku?
Dia cowok, iyalah jelas! Gini-gini
gue juga masih normal kali. Namanya boy, dia setingkatan sama aku. Dan dia
adalah cowok terpopuler disekolah sejak awal masuk. Tapi herannya, kenapa aku
nggak pernah ngerti dia. Dan mungkin nih yah, kalo bukan dia yang mulai duluan
buat ngajakin kenalan aku nggak akan pernah bisa kenal dia. Entahlah, dari awal
aku nggak pernah ada ketertarikan sedikitpun sama tuh orang, karena memang
benar adanya aku lebih ke sifat asliku yang masa bodoh dengan orang sekitar.
Padahal mulai dari kakak senior sampai yang junior sekalipun semuanya pada
ngehebohin tuh orang. Kadang aku sempet mikir juga masa iya sih diantara sekian
banyaknya manusia manusia di sekolah ini cuma aku yang nggak normal karena cuma
aku yang nggak punya ketertarikan sama dia. Emang seberapa cakepnya dia,
sampai-sampai manusia satu sekolah bisa heboh seheboh kaya lagi didatengin
artis.
Seiring berjalannya waktu, perlahan
kehebohan mulai terminimalisir. Hingga tiba saatnya aku dan dia memulai
perkenalan, berawal lewat pesan singkat. Dia duluan yang mengirim pesan singkat
ke aku tanpa sepengetahuanku darimana dia bisa punya nomor handphone ku. Kita
mulai berinteraksi lewat pesan singkat itu dikeseharian kita tanpa bisa
bercakap secara langsung face to face karena kebetulan ini masih liburan
jeda semester. Percakapan awal terasa sedikit kaku, dia yang kayanya gengsian
dan aku juga yang terlalu cuek karena aku belom begitu paham sama yang namanya
boy itu bentuknya seperti apa (?) Namun lama kelamaan aku sering ketemu
dia disekolah, sering saling mencuri pandang juga disela langkah pertemuan
kita. Dan semakin jauh kesana hubunganku dengannya semakin akrab, semakin
dekat, dan hingga pada akhirnya keluar ungkapan perasaan sayang darinya
untukku. Bisa dibilang ini terlalu cepat, belom saling mengenal lebih jauh tapi
sudah punya perasaan sayang yang entah itu tulus dari hatinya apa bukan. Dan
terus terang saja aku merasakan hal yang sama. Dalam hatiku mulai tumbuh benih
kasih sayang darinya, dan tanpa pikir panjang kita memulai hubungan resmi
pacaran. Senengnya bukan main, sungguh ini baru pertama kalinya. Keseharianku
terasa berjalan lebih cepat karenanya, terasa lebih berbeda sudah pasti. Aku
yang dulunya sendiri tanpa ada seseorang yang memberikan perhatian saat ini
tlah berubah menjadi ada yang lebih. Panggilan yang dulunya aku-kamu sekarang
berubah menjadi sayang. Aku semakin bersemangat untuk jalani hari terlebih kalo
pergi sekolah. Ya, selain untuk ketemu temen-temen dan belajar, di sekolah aku
bisa ketemu seseorang yang kuanggap penting saat ini. Siapa lagi kalo bukan
boy, cowok keren berpostur tubuh tinggi menjulang keangkasa wkwk bercanda,
habis dia tingginya kebangetan sih. Putih dan punya pandangan yang sungguh
menarik ternyata *barusadarini. Awal hubungan manis itu udah biasa, tapi akhir
hubungan bisa manis itu jarang-jarang yang ada. Iya itu fakta. Hubunganku
dengannya cuma berjalan 3 bulan lamanya. Ya wajar sih memang, sesuatu yang
dengan mudah untuk bisa mendapatkannya memang akan dengan mudah terlepaskannya.
Selama kurang lebih 3 bulan itulah kita ada dalam disebagian perjalanan hidup
aku dan dia. Selama kurang lebih 3 bulan itu juga kita punya banyak kenangan
yang tercipta dengan sendirinya tanpa kesadaran berarti dari kita. Dan mulai
terasa saat semua sudah saling menjauh dan mungkin sudah saling
melupakan.
Semenjak kejadian itu, kita sudah
jarang dan bahkan tidak pernah berinteraksi secara langsung maupun tidak
langsung. Meskipun kita masih satu sekolah yang kemungkinan buat ketemu setiap
harinya itu udah pasti ada. Tapi yang namanya orang lagi kecewa, buat
mengetahui dia ada diantara kita saja udah jengkel gimana kalo ketemu lalu
berbicara. Jadi, tak jarang aku selalu menghindar setiap kali berpas-pasan
dengannya.Munafik? iya aku memang munafik. Sok nggak mau ketemu dia padahal
pengen banget.Tapi keadaan mengharuskan aku membiasakan hariku tanpanya, walau
kutahu itu bukan hal yang mudah. Namun, perjalananku bukan sekedar bersamanya
dan sampai disini. Perjalananku masih panjang dan tak harus selalu bergantung
dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar