Senin, 02 September 2013

Cinta Pertama?

Bener nggak sih cinta pertama itu susah buat dilupain? Kayaknya iya. Apa iya pacar pertama itu udah pasti cinta pertamanya? Belum tentu. Buktinya? Buktinya ya seperti apa yang sedang ku alami saat ini. Ya, mungkin bisa dibilang aku ini seorang playgirl (mengakui). Tapi itu dulu dan sekarang udah beda. Memang sih dulunya aku sering gonta ganti pacar entah sudah berapa kali. Tapi terus terang saja dari sekian kali aku pacaran baru kali ini aku benar-benar ngerasain gimana rasanya sayang sama seseorang dan itu baru pertama aku merasakannya. Dan kupikir inilah yang namanya cinta. Bilamana ku ketemu dengannya tak jarang ku merasa malu dan nervous, tapi cuma bisa diam dan nggak bisa berkutik. Dan kalo dianya udah menjauh, sedikit ekspresi senangnya perlahan keluar. Rasa senengnya itu lho yang luar biasa meledak. 

Selain bisa dibilang playgirl, banyak juga yang menilai kalo aku ini cuek, judes, dan sejenisnya. Alasan mereka menilaiku seperti itu apa aku sendiri sebenarnya nggak tau, ya karena menurutku aku udah biasa sebiasa-biasanya. Tapi katanya—mereka menilaiku cuek dilihat dari tampangku yang lebih memperlihatkan ke- masa bodohanku ke orang sekitar. Iya, bisa jadi itu benar. Ah iya lanjut, tentang seseorang yang bilamana aku ketemu dengannya merasa senang. Mungkinkah dia cinta pertamaku? 

Dia cowok, iyalah jelas! Gini-gini gue juga masih normal kali. Namanya boy, dia setingkatan sama aku. Dan dia adalah cowok terpopuler disekolah sejak awal masuk. Tapi herannya, kenapa aku nggak pernah ngerti dia. Dan mungkin nih yah, kalo bukan dia yang mulai duluan buat ngajakin kenalan aku nggak akan pernah bisa kenal dia. Entahlah, dari awal aku nggak pernah ada ketertarikan sedikitpun sama tuh orang, karena memang benar adanya aku lebih ke sifat asliku yang masa bodoh dengan orang sekitar. Padahal mulai dari kakak senior sampai yang junior sekalipun semuanya pada ngehebohin tuh orang. Kadang aku sempet mikir juga masa iya sih diantara sekian banyaknya manusia manusia di sekolah ini cuma aku yang nggak normal karena cuma aku yang nggak punya ketertarikan sama dia. Emang seberapa cakepnya dia, sampai-sampai manusia satu sekolah bisa heboh seheboh kaya lagi didatengin artis. 

Seiring berjalannya waktu, perlahan kehebohan mulai terminimalisir. Hingga tiba saatnya aku dan dia memulai perkenalan, berawal lewat pesan singkat. Dia duluan yang mengirim pesan singkat ke aku tanpa sepengetahuanku darimana dia bisa punya nomor handphone ku. Kita mulai berinteraksi lewat pesan singkat itu dikeseharian kita tanpa bisa bercakap secara langsung face to face karena kebetulan ini masih liburan jeda semester. Percakapan awal terasa sedikit kaku, dia yang kayanya gengsian dan aku juga yang terlalu cuek karena aku belom begitu paham sama yang namanya boy itu bentuknya seperti apa (?)  Namun lama kelamaan aku sering ketemu dia disekolah, sering saling mencuri pandang juga disela langkah pertemuan kita. Dan semakin jauh kesana hubunganku dengannya semakin akrab, semakin dekat, dan hingga pada akhirnya keluar ungkapan perasaan sayang darinya untukku. Bisa dibilang ini terlalu cepat, belom saling mengenal lebih jauh tapi sudah punya perasaan sayang yang entah itu tulus dari hatinya apa bukan. Dan terus terang saja aku merasakan hal yang sama. Dalam hatiku mulai tumbuh benih kasih sayang darinya, dan tanpa pikir panjang kita memulai hubungan resmi pacaran. Senengnya bukan main, sungguh ini baru pertama kalinya. Keseharianku terasa berjalan lebih cepat karenanya, terasa lebih berbeda sudah pasti. Aku yang dulunya sendiri tanpa ada seseorang yang memberikan perhatian saat ini tlah berubah menjadi ada yang lebih. Panggilan yang dulunya aku-kamu sekarang berubah menjadi sayang. Aku semakin bersemangat untuk jalani hari terlebih kalo pergi sekolah. Ya, selain untuk ketemu temen-temen dan belajar, di sekolah aku bisa ketemu seseorang yang kuanggap penting saat ini. Siapa lagi kalo bukan boy, cowok keren berpostur tubuh tinggi menjulang keangkasa wkwk bercanda, habis dia tingginya kebangetan sih. Putih dan punya pandangan yang sungguh menarik ternyata *barusadarini. Awal hubungan manis itu udah biasa, tapi akhir hubungan bisa manis itu jarang-jarang yang ada. Iya itu fakta. Hubunganku dengannya cuma berjalan 3 bulan lamanya. Ya wajar sih memang, sesuatu yang dengan mudah untuk bisa mendapatkannya memang akan dengan mudah terlepaskannya. Selama kurang lebih 3 bulan itulah kita ada dalam disebagian perjalanan hidup aku dan dia. Selama kurang lebih 3 bulan itu juga kita punya banyak kenangan yang tercipta dengan sendirinya tanpa kesadaran berarti dari kita. Dan mulai terasa saat semua sudah saling menjauh dan mungkin sudah saling melupakan. 

Semenjak kejadian itu, kita sudah jarang dan bahkan tidak pernah berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun kita masih satu sekolah yang kemungkinan buat ketemu setiap harinya itu udah pasti ada. Tapi yang namanya orang lagi kecewa, buat mengetahui dia ada diantara kita saja udah jengkel gimana kalo ketemu lalu berbicara. Jadi, tak jarang aku selalu menghindar setiap kali berpas-pasan dengannya.Munafik? iya aku memang munafik. Sok nggak mau ketemu dia padahal pengen banget.Tapi keadaan mengharuskan aku membiasakan hariku tanpanya, walau kutahu itu bukan hal yang mudah. Namun, perjalananku bukan sekedar bersamanya dan sampai disini. Perjalananku masih panjang dan tak harus selalu bergantung dengannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar