Senin, 20 Mei 2013

Obrolan Singkat Kita


“Kamu gak pernah ngerti perasaanku!”
“Lalu apakah kamu pikir kamu sudah bisa sepenuhnya mengerti perasaanku? Gak nyangka kamu bisa seegois ini. Bukankah kamu selalu menasihatiku agar aku bisa berfikir selayaknya orang dewasa? Tapi kamu, kamu sendiri tak bisa menyesuaikan dengan apa yang kamu ucapkan.”
“Pengen tahu? Rasa kecewaku penuh. Ya mungkin akhir-akhir ini kedewasaanku udah luntur karenamu. Kesabaranku lama-lama tergerus waktu dan masalah yang sama yang gak pernah selesai.”
“Masalah gak akan pernah selesai kalo kamu hanya menyembunyikan semuanya dalam diammu.”
“Kamu mau tahu kenapa aku diam? Aku diam karena aku mencoba bersabar. Kamu jangan memancing emosiku yang udah kutinggalkan demi kamu.”
“Aku bukan bermaksud untuk memancing emosimu, tapi aku hanya ingin mengerti seberapa bisa kamu bersabar untuk seseorang yang benar-benar kamu sayang.”
“...”
“Kamu mungkin selalu beranggapan kalo diantara kita hanya kamu saja yang berkorban tanpa menghiraukan sedikitpun pengorbanan apa yang telah kulakukan untuk kita.”
“Katakan semua pendapatmu tentangku. Biar kutahu bagaimana pandanganmu terhadapku.”
“Sekarang aku tanya kapan aku bisa marah banget sama kamu? Kapan aku ngerasa kecewa banget sama kamu? Dan fikirkan seberapa sering kamu marah sama aku dan mempermasalahkan hal-hal yang sebenernya itu bisa kita selesaikan dengan ketenangan. Bukan dengan keributan yang semakin menenggelamkan kita ke arah yang tidak seharusnya kita tuju.Kamu selalu melarangku untuk mengeluh, tapi kenapa justru kamu yang mengeluh.”
“Kesulitannya adalah kita belum bisa saling terbuka. Aku memang berbeda dengan yang dulu, aku gak seperti dulu yang selalu bersikap dewasa dan  tenang dalam menyelesaikan setiap masalah.”
“Dan kamu tahu itu berarti apa? Masih banyak yang harus dibenahi dari kita, bersama. Akhir-akhir ini hampir disetiap waktu yang kita punya selalu ada keributan. Aku belum bisa percaya sama kamu dan aku yakin kamu pasti merasakan hal yang sama.”
“Akhir-akhir ini kamu sering curiga sama aku. Kamu lampiaskan ke sifatmu yang semakin berubah dan aku seolah tak peduli sama kamu memang karena aku ngerasa ada yang berbeda. Aku berusaha memperbaiki semuanya.”
“Aku juga tak menginginkan ini terjadi diantara kita sayang. Dan aku gak pernah berubah, aku masih yang dulu sayang sama kamu, hanya saja saat ini kita sedang dihadapkan sama situasi yang sulit untuk kita bisa menyesuaikan.”
“...”
“Aku cuma minta satu, ikuti kata hatimu dan jangan pernah mencoba untuk memaksakannya.”
“Rasa rinduku hilang tersapu oleh rasa kecewaku. Kesabaranku memudar karena amarahmu.”
“Hanya segitukah? Baru di tahap awal saja kamu sudah mengeluh, bagaimana nanti? Katakan semua apa yang ingin kamu katakan padaku.”
“Aku gak mau melihat hari kedepan yang entah lebih baik atau mungkin malah lebih buruk dari yang kita lewati. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi dan bagaimana menyelesaikannya.”
“Apa kamu masih percaya sama aku? Apa kamu yakin kamu bisa lebih bersabar lagi untukku?”
“Aku akan menunggumu yang lebih baik, dan aku juga akan merubah sifat kerasku.”
“Seharusnya kamu bisa ngertiin aku, bukannya aku gak peduli sama kamu, bukan juga ku tak menghiraukan keberadaanmu untukku. Hanya saja waktu kita untuk berdebat seperti ini tidak tepat. Aku sayang kamu, dan seterusnya akan seperti itu.”
“Seharusnya dengan sisa waktu yang ada ini bisa kita gunakan untuk mencipta kenangan dimana kita mengenal dan menaruh perasaan sayang. Tapi rasa kecewa dan masalah yang dari dulu sampai sekarang belum terselesaikan jadi menghancurkan semuanya.”
“Maka dari itu, apa kamu akan terus membiarkan kita seperti ini? Terombang-ambingkan oleh perasaan yang semakin tidak jelas antara rasa kecewa, Rindu dan rasa kepercayaan yang kurang.”
“Kalo soal kepercayaan, aku sudah percaya, tapi sikap diantara kitalah yang harus diperbaiki. Dan aku ingin memperbaikinya.”
“Dan aku juga pasti akan memperbaikinya, tapi apa kamu yakin dengan perasaanmu ke aku?”
“Gak, aku gak yakin. Aku hanya sekedar menjalani apa yang ada dan berusaha untuk meyakinkannya.”
“Kamu udah gak sayang lagi sama aku?”
“Mungkin semua butuh waktu, perasaan sayangku ke kamu hilang entah kemana.”
“Jika memang kamu sudah tak lagi menyayangiku, jangan memaksa. Aku gak mau kamu ada buat aku karena kamu kasihan sama aku bukan karena kamu benar-benar menyayangiku. Namun, kapanpun kamu ingin kembali buat aku, ruang hatiku akan selalu menyambut hadirmu kembali dengan senang hati.”
“Kalo aku kembalinya 50 tahun lagi, bagaimana denganmu?”
“Aku akan tetap menunggumu hingga 50 tahun lagi.”
“Apakah kamu yakin setelah 50 tahun lagi kamu masih bisa mengingatku?”
“Tentu saja masih, kalopun nanti aku lupa dengan wajahmu yang bisa saja setelah 50 tahun lagi berbeda, aku masih bisa melihatmu dengan hati yang selalu ingin ditemani olehmu.”



Minggu, 19 Mei 2013

Siapa Yang Peduli? Tak Ada.




Siapa yang peduli tentang semua ini? Siapa yang peduli akan rasa sakit ini? Siapa yang peduli seberapa banyak sepasang mata ini menumpahkan kristal beninghanya untuknya? Siapa yang peduli akan perasaan ini? Siapa yang peduli dengan pengharapan ini? Siapa yang peduli seberapa sering bibir ini menyertakan namanya dalam setiap bait doa? Siapa yang peduli seberapa sering tangan ini menuliskan cerita tentangnya? Siapa yang peduli seberapa besar perhatian ini untuknya? Siapa yang peduli? Tak ada. Kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa peduli? Mengerti saja kamu tak pernah. Lalu kamu pikir ini semua kulakukan untuk siapa? Karena apa? Ini semua untuk kamu, karena aku menyayangimu. Tapi kenapa? Kenapa kamu tak pernah menyadarinya? Tak pernah tau, dan tak pernah mau tau? Salahkah bila ku menyayangimu? Salahkah bila ku menginginkan kamu untuk memahami setiap pengorbananku untukmu? Salahkah bila ku mengharapkan kasih sayang yang tulus darimu? Salahkah? 

Aku ingin menjadi seseorang yang berarti untukmu, untuk hidupmu. Dan aku tak pernah berhenti mencoba banyak hal untuk itu, meskipun seringkali gagal karena tak pernah terlihat olehmu, dan berujung pada kesakitan. Bukan masalah bagiku memang, namun entahlah aku selalu mengatakan seperti itu bukan masalah bagiku memang tapi pada kenyataannya selalu saja tak pernah bisa sesuai dengan apa yang kukatakan. Mungkin aku yang terlalu mudah putus asa, menyerah dan terlalu lemah. Karena aku merasa semua yang kulakukan untukmu tak pernah bisa menjadikanku lebih baik di matamu. Selalu salah, salah dan salah. Tak pernah sekalipun benar. Lalu aku harus bagaimana? Menuruti semua inginmu? Membenarkan semua tingkah lakumu? Dan bertahan dalam suatu keadaan yang sungguh membuatku bingung bahkan tertekan dan pada akhirnya terluka? Sikapmu yang seolah tak pernah ada sedikit pun rasa peduli terhadapku inilah yang membuatku ragu. Akankah ku masih sanggup bertahan untuk membuktikan kesungguhan hati ini padamu? Mengingat betapa terlalu tidak pedulinya kamu terhadapku. Mengingat seberapa seringnya kamu mengabaikanku. 

Bisakah kamu merasakan jantung ini yang hanya berdetak untukmu? Bisakah kamu mendengarkan kejujuran hati ini akan semua tentangmu? Ah, entahlah. Sulit dimengerti. Bagaimana kejelasan akan pikiranmu yang sangat menggantungkanku ini. Disaat tertentu kamu bisa saja memahamiku sesuai dengan apa yang ku perbuat, namun disaat tertentu juga kamu bisa dengan cepat berubah menganggap negatif semua yang ku perbuat.Padahal jelas apa yang ku perbuat diperuntukkan hanya untukmu. Terkadang aku lelah dan ingin menyerah. Berhenti mengaharapkan sesuatu yang mungkin tak seharusnya kuharapkan. Kamu.  Tapi keinginanku ke arah situ selalu saja dikalahkan oleh rasa sayangku yang tulus padamu. Rasanya rintangan sesulit apapun yang harus kuhadapi tak pernah bisa menghilangkan perasaanku terhadapmu. Bersabar. Ya, bersabar. Hanya bisa bersabar. Menanti hingga saatnya kamu bisa mengerti akan semua yang udah kulakukan untukmu. Menanti hingga saatnya kamu bisa sepenuhnya memahami akan perasaanku yang tulus mencintaimu. Menanti keseriusanmu terhadapku. Menanti hingga saatnya kamu bisa menerima semua kekuranganku. Menanti hingga saatnya kamu mau memutuskan untuk melangkah bersamaku menuju kesebuah keabadian bersama sepasang hati kita yang saling tulus mencintai. Karena ketulusan cinta ini yang menguatkanku untuk bertahan.