“Kamu
gak pernah ngerti perasaanku!”
“Lalu
apakah kamu pikir kamu sudah bisa sepenuhnya mengerti perasaanku? Gak nyangka
kamu bisa seegois ini. Bukankah kamu selalu menasihatiku agar aku bisa berfikir
selayaknya orang dewasa? Tapi kamu, kamu sendiri tak bisa menyesuaikan dengan
apa yang kamu ucapkan.”
“Pengen
tahu? Rasa kecewaku penuh. Ya mungkin akhir-akhir ini kedewasaanku udah luntur
karenamu. Kesabaranku lama-lama tergerus waktu dan masalah yang sama yang gak
pernah selesai.”
“Masalah
gak akan pernah selesai kalo kamu hanya menyembunyikan semuanya dalam diammu.”
“Kamu
mau tahu kenapa aku diam? Aku diam karena aku mencoba bersabar. Kamu jangan
memancing emosiku yang udah kutinggalkan demi kamu.”
“Aku
bukan bermaksud untuk memancing emosimu, tapi aku hanya ingin mengerti seberapa
bisa kamu bersabar untuk seseorang yang benar-benar kamu sayang.”
“...”
“Kamu
mungkin selalu beranggapan kalo diantara kita hanya kamu saja yang berkorban
tanpa menghiraukan sedikitpun pengorbanan apa yang telah kulakukan untuk kita.”
“Katakan
semua pendapatmu tentangku. Biar kutahu bagaimana pandanganmu terhadapku.”
“Sekarang
aku tanya kapan aku bisa marah banget sama kamu? Kapan aku ngerasa kecewa
banget sama kamu? Dan fikirkan seberapa sering kamu marah sama aku dan
mempermasalahkan hal-hal yang sebenernya itu bisa kita selesaikan dengan
ketenangan. Bukan dengan keributan yang semakin menenggelamkan kita ke arah
yang tidak seharusnya kita tuju.Kamu selalu melarangku untuk mengeluh, tapi
kenapa justru kamu yang mengeluh.”
“Kesulitannya
adalah kita belum bisa saling terbuka. Aku memang berbeda dengan yang dulu, aku
gak seperti dulu yang selalu bersikap dewasa dan tenang dalam menyelesaikan setiap masalah.”
“Dan
kamu tahu itu berarti apa? Masih banyak yang harus dibenahi dari kita, bersama.
Akhir-akhir ini hampir disetiap waktu yang kita punya selalu ada keributan. Aku
belum bisa percaya sama kamu dan aku yakin kamu pasti merasakan hal yang sama.”
“Akhir-akhir
ini kamu sering curiga sama aku. Kamu lampiaskan ke sifatmu yang semakin berubah
dan aku seolah tak peduli sama kamu memang karena aku ngerasa ada yang berbeda.
Aku berusaha memperbaiki semuanya.”
“Aku
juga tak menginginkan ini terjadi diantara kita sayang. Dan aku gak pernah
berubah, aku masih yang dulu sayang sama kamu, hanya saja saat ini kita sedang
dihadapkan sama situasi yang sulit untuk kita bisa menyesuaikan.”
“...”
“Aku
cuma minta satu, ikuti kata hatimu dan jangan pernah mencoba untuk
memaksakannya.”
“Rasa
rinduku hilang tersapu oleh rasa kecewaku. Kesabaranku memudar karena
amarahmu.”
“Hanya
segitukah? Baru di tahap awal saja kamu sudah mengeluh, bagaimana nanti?
Katakan semua apa yang ingin kamu katakan padaku.”
“Aku
gak mau melihat hari kedepan yang entah lebih baik atau mungkin malah lebih
buruk dari yang kita lewati. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi dan
bagaimana menyelesaikannya.”
“Apa
kamu masih percaya sama aku? Apa kamu yakin kamu bisa lebih bersabar lagi
untukku?”
“Aku
akan menunggumu yang lebih baik, dan aku juga akan merubah sifat kerasku.”
“Seharusnya
kamu bisa ngertiin aku, bukannya aku gak peduli sama kamu, bukan juga ku tak
menghiraukan keberadaanmu untukku. Hanya saja waktu kita untuk berdebat seperti
ini tidak tepat. Aku sayang kamu, dan seterusnya akan seperti itu.”
“Seharusnya
dengan sisa waktu yang ada ini bisa kita gunakan untuk mencipta kenangan dimana
kita mengenal dan menaruh perasaan sayang. Tapi rasa kecewa dan masalah yang
dari dulu sampai sekarang belum terselesaikan jadi menghancurkan semuanya.”
“Maka
dari itu, apa kamu akan terus membiarkan kita seperti ini? Terombang-ambingkan
oleh perasaan yang semakin tidak jelas antara rasa kecewa, Rindu dan rasa
kepercayaan yang kurang.”
“Kalo
soal kepercayaan, aku sudah percaya, tapi sikap diantara kitalah yang harus
diperbaiki. Dan aku ingin memperbaikinya.”
“Dan
aku juga pasti akan memperbaikinya, tapi apa kamu yakin dengan perasaanmu ke
aku?”
“Gak,
aku gak yakin. Aku hanya sekedar menjalani apa yang ada dan berusaha untuk
meyakinkannya.”
“Kamu
udah gak sayang lagi sama aku?”
“Mungkin
semua butuh waktu, perasaan sayangku ke kamu hilang entah kemana.”
“Jika
memang kamu sudah tak lagi menyayangiku, jangan memaksa. Aku gak mau kamu ada
buat aku karena kamu kasihan sama aku bukan karena kamu benar-benar
menyayangiku. Namun, kapanpun kamu ingin kembali buat aku, ruang hatiku akan
selalu menyambut hadirmu kembali dengan senang hati.”
“Kalo
aku kembalinya 50 tahun lagi, bagaimana denganmu?”
“Aku
akan tetap menunggumu hingga 50 tahun lagi.”
“Apakah
kamu yakin setelah 50 tahun lagi kamu masih bisa mengingatku?”
“Tentu
saja masih, kalopun nanti aku lupa dengan wajahmu yang bisa saja setelah 50
tahun lagi berbeda, aku masih bisa melihatmu dengan hati yang selalu ingin
ditemani olehmu.”