Entah
kapan aku bisa bosan untuk menuliskan cerita tentangmu. Kemarin, hari ini, dan
bahkan mungkin esok nanti aku takkan pernah bisa bosan untuk menuliskan cerita
tentangmu, tentangku, tentang kita -yang dulu-. Dan saat ini masih sama, cerita
yang kutulis ini masih bertemakan kamu. Kamu yang sekarang dan mungkin udah
bukan lagi kamu yang ku kenal dulu. Kamu beda, iya kamu beda. Beda karena kamu
udah bosan sama aku atau beda karena udah ada yang baru sepertinya cuma beda
tipis. Intinya kamu berubah.
Aku
memang bukan siapa-siapa buat kamu. Aku bukan pacar kamu bukan juga seseorang
yang kamu sayang. Tapi aku seseorang yang pernah punya cerita ‘kita’ sama kamu.
Dan kamu harus tau kalo kamu akan tetap menjadi satu-satunya kamu buat aku.
Kamu boleh lupain aku, tapi jangan kita jangan juga kamu lupain cerita kita
yang dulu pernah kamu dan aku ciptakan. Maaf jika selama ini aku kurang tahu
diri dengan apa yang ada, maaf juga jika selama ini aku egois.
Bercerita
tentang kamu itu rumit, terlalu klimaks dan rancu, terlalu sulit dipahami. Sama
halnya dengan jalan pikiranmu yang selalu gagal untuk ku pahami. Herannya
kenapa aku selalu lebih memilih bertahan dengan pengabaianmu yang tiada arti.
Bertahan untuk menyakiti hati dengan kebodohan diri sendiri. Apakah ini bisa
dibilang cinta kalo pada kenyataannya cuma bikin sakit?
Kamu
sering datang dan pergi begitu saja. Sering memperhatikan dan mengabaikan
begitu saja. Tapi kenapa aku nggak pernah bisa bosan untuk menerima semua itu?
Seharusnya aku bisa melupakan yang lalu dan menjemput yang baru. Menutup
lembaran lama dan membuka yang baru untuk yang lebih indah. Kenyataannya apa,
aku selalu gagal mengambil langkah baru. Setiap langkah baru yang kuambil
selalu saja berujung pada kamu dimasa lalu. Move
on sementara, ya mungkin bisa dibilang seperti itu.
Aku
sayang kamu, kamu tau itu tapi kamu tetap nggak mau tau. Kamu nggak sayang aku,
aku tau itu tapi aku juga tetap nggak mau tau. Lantas siapa yang salah?
Keduanya sama-sama egois. Inilah perasaan remaja labil yang sulit untuk bisa
diterima oleh logika. Membingungkan. Seharusnya aku sadar akan perhatian
pura-puramu yang dulunya kumiliki sekarang menjadi perhatian nyata yang
dimiliki orang lain.